VPS HOSTING
VPS HOSTING

Apa sih Impostor Syndrome itu? Sindrom Penipu

  • Bagikan
Sindrom Penipu Apa sih Impostor Syndrome itu? Sindrom Penipu
Freepik

Impostor Syndrome atau sindrom penipu ini pertama kali diteliti oleh psikolog Pauline Rose Clance dan Suzanne Imes pada tahun 1978. Tapi, sindrom penipu ini bukanlah gangguan mental ya.

Dan berdasarkan sebuah artikel di International Journal of Behavioral Science, sekitar 70% orang di dunia pernah mengalami impostor syndrome ini kok. Kamu tau Natalie Portman?

Aktris pemeran utama film Black Swan ini adalah salah satu orang yang pernah mengalami sindrom penipu, atau yang dikenal dengan istilah Impostor Syndrome.

Apa sih Impostor Syndrome itu?

Impostor Syndrome adalah suatu kondisi dimana seseorang meragukan kemampuannya dan merasa tidak layak atas pencapaian yang diraihnya. Sekalipun prestasinya itu memang valid.

Mereka menganggap kalau kesuksesan mereka itu cuma kebetulan dan keberuntungan belaka. Mereka bahkan merasa bahwa dirinya itu adalah seorang yang palsu atau penipu.

Apa saja tanda-tandanya?

  • Merasa tidak layak atas pencapaian yang diraih.
  • Menganggap kesuksesannya hanya faktor eksternal saja, padahal mereka berusaha keras.
  • Membuat target yang tinggi, tapi tidak pernah merasa puas sekalipun target telah tercapai.
  • Mengabaikan pujian orang lain dan menganggap itu hanya basa-basi atau karena mereka penipu.
  • Khawatir kalau orang lain tau bahwa kemampuan aslinya tidak sebaik yang mereka lihat.
  • Menunda melakukan sesuatu karena merasa tidak mampu, atau malah bekerja terlalu keras untuk pembuktian diri.

Sebenarnya, siapa saja bisa mengalami Impostor Syndrome ini. Tapi menurut Dr. Valerie Young, ada 5 tipe orang yang rentan mengalami Impostor Syndrome.

1. The Expert: Merasa harus tau semua hal. Kalau bertanya, takut dianggap bodoh.

2. The Superhero: Tipe yang sangat ambisius dan workaholic.

3. The Natura Genius: Merasa harus mampu menguasai hal baru dengan mudah dan cepat.

4. The Perfectionist: Berusaha mengejar kesempurnaan dan punya standar yang sangat tinggi.

5. The Soloist: SUka bekerja sendiri dan merasa harus mampu tanpa campur tangan orang lain.

Bagaimana cara mengatasinya?

  • Hargailah usahamu: Ingatlah kembali saat-saat kamu berjuang demi mencapai hal itu. Supaya kamu sadar bahwa keberhasilanmu adalah hasil kerja kerasmu selama ini.
  • Apresiasi dirimu: Belajarlah untuk memberi dirimu reward, sekecil apapun keberhasilanmu.
  • Berhenti membandingkan diri: Jangan terus menekan dirimu dengan target yang tidak masuk akal hanya demi pembuktian diri.

Yakinlah bahwa kamu berharga dan kamu pantas untuk bangga pada dirimu sendiri.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *