VPS HOSTING
VPS HOSTING

Ruminasi: Penyebab, Gejala dan Cara Mengurangi

  • Bagikan
Ruminasi Ruminasi: Penyebab, Gejala dan Cara Mengurangi
Foto: Freepik

Salah satu bentuk overthinking dalam psikologi adalah ruminasi. Ruminasi merupakan sebuah bentuk refleksi diri agar tidak kembali mengalami kepahitan yang sama. Bentuknya seperti; “mengapa orang-orang menyalahkanku atas kecelakaan yang terjadi?” atau “mengapa aku memutuskan marah kepada seseorang?”.

Alih-alih sebagai refleksi, ruminasi menjadikan seseorang terkungkung dalam perasaan bersalah dan tidak ingin menyelesaikan masalah tersebut. Pikiran semacam ini yang nantinya menjadi benalu. Akibatnya, emosi negatiflah yang menguasai pribadi seseorang.

Luapan atas ruminasi yang terjadi bisa berbagai macam. Ada yang menangis, ada yang teriak untuk meredakan emosi, dan juga marah kepada orang lain. Emosi negatif inilah yang menjadikan seseorang tidak stabil.

Ruminasi menjadikan seseorang tidak punya jalan keluar atas masalah yang terjadi. Ruminasi ibarat seekor hamster yang berada di roda berputar, hanya berlari-lari saja tanpa keluar dari roda tersebut.

Nah, hal itulah yang membuat seseorang lelah karena energi terkuras untuk memikirkan sesuatu yang seharusnya selesai.

Berdasarkan Response Style Theory, dalam salah satu riset Nolen-Hoeksema tahun 2008, “Rethinking Rumination”, ruminasi dijelaskan sebagai bentuk refleksi diri yang menghasilkan pandangan baru yang justru menambah atau memperpanjang durasi stress hingga depresi seseorang.

Proses ini akan melewati tiga tahapan:

Pertama, ruminasi akan membuat seseorang terus-menerus memikirkan masa silam yang menyakitkan sehingga memicu perasaan tertekan.

Kedua, ruminasi menghalangi kemampuan seseorang untuk memecahkan masalah karena efektif, yang menjadikan seseorang berpikir pesimistis dan fatalistis.

Ketiga, ruminasi akan mengganggu perilaku seseorang hinga ke tahapan depresif.

Beberapa cara untuk mengurangi ruminasi:

  1. Lakukan tindakan-tindakan kecil untuk mengalihkan perhatian, seperti menarik nafas panjang untuk merasakan emosi positif atau merobek-robek kertas.
  2. Tekan pikiran negatif serta ekspektasi berlebih terhadap sesuatu atau seseorang.
  3. Lepaskan hasrat untuk meraih tujuan yang tidak menyehatkan atau yang tidak mungkin tercapai. Contohnya, berharap semua orang menyukaimu padahal kata “semua” adalah harapan yang tidak suka denganmu dan memang begitulah hidup.
  4. Pahami apa saja pemicu yang membuatmu merasa tertekan dan berusaha untuk tenang ketika perasaan tersebut muncul.
  5. Belajar dari kesalahan masa silam, jadikan ruminasi sebagai pembelajaran untuk melepaskan diri dari kesalahan yang dilakukan di masa lalu dan lebih jeli dalam mempertimbangkan sikap terhadap orang lain.
  6. Terapi + Olahraga +Meditasi.
  7. Lakukan sesuatu yang menyenangkan, seperti membaca buku, nonton film, bermain, nongkrong dengan teman, atau jalan-jalan.

Terakhir, jangan ragu meminta bantuan kepada tenaga profesional jika kamu tidak dapat mengatasinya sendiri. Kamu tidak harus memikul bebanmu sendirian, kamu layak untuk mendapatkan dukungan.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *